Selasa, 02 Februari 2010

Kado untuk Orang Shalih

Keutamaan Dzikir
Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala semata, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada penutup para nabi dan rasul shallallahu’alaihi wasallam, amma ba'du.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu." (QS.al-Baqarah: 152 )
Juga firman-Nya, artinya, "Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah subhanahu wata’ala, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. al-Ahzab: 35 )
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Permisalan orang yang berdzikir (mengingat) Rabb-nya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang hidup dan orang mati." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Beliau juga bersabda: “Aku sesuai dengan (tergantung) hamba-Ku dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia menyebut-Ku dalam dirinya Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku dan jika ia menyebut-Ku dalam suatu majelis, maka Aku akan menyebutnya dalam majelis yang lebih baik dari majelis itu." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Al-Imam Ibnul Qayyim berkata, "Dzikir memiliki lebih dari seratus faidah,
Dzikir dapat mengusir, menundukkan dan membuat setan kecewa.
Dzikir diridhai oleh Yang Maha Pengasih.
Dzikir bisa mendatangkan rizqi.
Dzikir dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari hati.
Dzikir menimbulkan rasa gembira, riang, dan lapang dalam hati.
Dzikir memberi cahaya pada wajah dan hati.
Dzikir bisa menghapus dosa dan menghilangkannya.
Jika seorang hamba mengingat Allah subhanahu wata’ala pada waktu senang, maka Allah subhanahu wata’ala akan mengingatnya di waktu susah.
Faktor yang dapat menyibukkan lidah, sehingga terhindar dari perbuatan gibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), dusta, perkataan buruk dan batil.
Dzikir menghidupkan hati dan menguatkannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan, bagaimana keadaan ikan jika tidak ada air?"
Keutamaan Shalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
Ibnul Qayyim menyebutkan tiga puluh sembilan manfaat shalawat kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam, diantaranya:


Menjalankan perintah Allah, artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepada-nya." (QS. al-Ahzab: 56 )
Orang yang bershalawat pada beliau sekali, akan mendapatkan sepuluh kali shalawat dari Allah subhanahu wata’ala.
Diangkat derajatnya sepuluh tingkat, ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kesalahan.
Merupakan sebab mendapatkan syafa'at dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.
Jika ia mendahulukan shalawat dalam do'anya, besar harapan do'anya dikabulkan.
Merupakan sebab dihapusnya dosa.
Merupakan faktor yang dapat mendekatkan seseorang pada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Merupakan sebab diperolehnya shalawat dari Allah dan para malaikat.
Merupakan sebab dijawabnya salam oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam untuk orang yang bershalawat kepadanya.
Merupakan zakat dan penyuci bagi orang yang bershalawat.
Merupakan sebab kokohnya kaki ketika menapaki shirat.
Merupakan sebab terpenuhinya kebutuhan.

Dzikir Pagi dan Petang
(Dibaca setelah shalat Subuh dan setelah Ashar).

Membaca Ayat Kursi (QS. al-Baqarah: 255).[/isi]
Artinya, "Allah, tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi dengan haq) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluq-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar." (HR. an-Nasa-i dan ath-Thabrani dengan sanad yang baik).
Juga diucapkan ketika akan tidur dan dapat melindungi diri dari syetan.

Membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, dibaca tiga kali, maka tiga surat ini akan mencukupinya dari segala sesuatu.

Membaca:

اَللُّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَإِلَهَ إِلاَ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ, وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَااسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ، فَإِنَّهُ لاَيَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ). (رواه البخاري)

"Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi dengan haq), kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakan-ku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia dengan perjanjianku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuper-buat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa, kecuali Engkau."(HR. al-Bukhari).
Barangsiapa yang membacanya pada pagi hari dan meninggal dunia sebelum sore hari, maka ia akan masuk surga dan begitu pula sorenya.

Membaca:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَاْلعَافِيَةَ فِيْ دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ، وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ، اَللَّهُمَّ احْفِظْنِيْ مِنْ بَيْنَ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعِنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ). (أبو داود و ابن ماجه بسند صحيح).

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah tutuplah auratku (aibku) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu agar aku tidak disambar dari bawah." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih).
Juga diucapkan ketika akan tidur.

Membaca:

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ ِللهِ، وَالْحَمْدُ ِللهِ، لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٍ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِيْ هَذَا الْيَوْمِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِيْ هَذاَ الْيَوْمِ وَشَرَّ مَا بَعْدَهُ، رّبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ وَسُوْءِ الْكِبْرِ، رَبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ وَعَذَابٍ فَي الْقَبْرِ). (رواه مسلم).

"Kami telah memasuki waktu pagi dan segala kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak diibadai dengan benar), kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada se-kutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon pada-Mu kebaikan hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas dan kejelakan di hari tua. Wahai Rabb aku berlindung kepada-Mu dari siksaan di neraka dan siksaan di kubur." (HR. Muslim).

Di senja hari mengucapkan:

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَي المُلْكُ ِللهِ

"Kami telah memasuki waktu sore dan segala kerajaan hanya milik Allah",
sebagai ganti dari kalimat,

أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ ِللهِ

"Kami telah memasuki waktu pagi dan segala kerajaan hanya milik Allah".

Membaca:

بِسْمِ اللهِ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه بسند حسن)

"Dengan menyebut nama Allah, yang tidak akan berbahaya apa saja yang ada di bumi dan di langit. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad hasan).
Dibaca tiga kali, maka tidak akan ada yang dapat mencelakakannya hingga sore hari. Dan jika dibaca pada sore hari, maka tidak akan ada yang dapat mencelakakannya hingga pagi hari.

Membaca:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (رواه أحمد و النسائي و والترمذي و ابن ماجه بإسناد صحيح)

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan sesuatu yang diciptakan-Nya." (HR. Ahmad, an-Nasa-i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)
Dibaca tiga kali dan dibaca juga ketika mampir di suatu tempat.

Membaca:

ياَحَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلىَ نَفْسِيْ

"Wahai Rabb yang Maha hidup, Wahai Rabb yang Maha Berdiri sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusan-ku dan jangan serahkan kepadaku meski sekejap mata sekalipun." (HR.al-Hakim, dan beliau menshahihkannya serta di sepakati oleh adz-Dzahabi).
Diucapkan tiga kali pada sore hari saja.

Dzikir Sebelum Tidur

Membaca Ayat Kursi (QS. al-Baqarah ayat 255).
Orang yang membacanya tidak akan didekati oleh syetan hingga pagi.

Dua ayat dari surat Al-Baqarah (QS. al-Baqarah ayat 285 dan 286).
Barang siapa yang membaca keduanya pada malam hari, maka kedua ayat itu akan mencukupinya (dari segala bahaya).

Mengumpulkan kedua tangan, lalu ditiup dan dibacakan surat al-Ikhlash, surat al-Falaq dan surat an-Naas, kemudian dengan dua telapak tangan mengusap anggota tubuh yang dapat dijangkau dengannya. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan, dilakukan tiga kali. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hal ini dapat menjaganya dari segala sesuatu.

Membaca surat al-Kafirun kemudian tidur setelah selesai membacanya di setiap malam. (HR. Pengarang kitab sunan yang tiga, Ibnu Hibban dan al-Hakim). Karena surat al-Kafirun adalah bentuk berlepas diri dari syirik.

Membaca:

باِسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

"Dengan nama-Mu (aku tidur), wahai Rabbku aku merebahkan tubuh-ku. Dan dengan nama-Mu pula aku bangun. Apabila Engkau mencabut nyawaku, berikanlah rahmat-Mu kepadanya. Dan apabila Engkau membiarkannya hidup, maka peliharalah, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih, sebab mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan Allah." (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Membaca:

بِاسْمِكَ اَللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

"Dengan nama-Mu, Aku mati dan hidup." (HR. al-Bukhari)
Apabila bangun dari tidur berdo’a,

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

"Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan setelah mewafatkanku dan hanya kepada-Nyalah kita kembali." (HR. Al-Buhkari).
Dibaca satu kali.

Mengucapkan, "Allahu Akbar (34 kali), subhaanallahi (33 kali), dan alhamdulillahi (33 kali)." (HR. al-Bukhari).

Membaca:

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَمَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ, آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

"Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, a-ku menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu, kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan juga Nabi yang Engkau utus." (HR. al-Bukhari). Apabila ia mati, maka ia mati dalam keadaan fitrah. Ini merupakan bacaan terakhir dibaca ketika akan tidur.

Membaca:

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيمِ, رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْئٍ, فَالِقَ اْلحَبِّ وَالنَّوَى, وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيلِ, وَالْفُرْقَانِ, أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْئٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْئٌ, وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْئٌ, وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْئٌ, وَأَنْتَ اْلبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْئٌ, اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ اْلفَقْرِ

"Ya Allah, Rabb lagit yang tujuh dan Rabb 'Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Pembelah biji dan benih. Yang menurunkan Taurat, Injil, dan al-Qur-an. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu, Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkaulah yang paling pertama, sehingga tidak ada sesuatu pun sebelum diri-Mu. Engkaulah Yang paling akhir, sehingga tidak ada sesuatupun setelah-Mu. Dan Engkaulah yang zhahir, sehingga tidak ada sesuatu yang mengungguli-Mu dan Eng-kaulah Yang bathin, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersem-bunyi dari-Mu. Lunasilah hutang kami dan cukupilah kami dari kefakiran." (HR. Muslim)

Diantara adab tidur: berwudhu, tidur dengan miring pada samping kanan dan meletakkan tangan kanan di bawah pipi.

Jangan lupa! Anda akan mendapatkan satu kebaikan untuk tiap huruf al-Qur'an yang anda baca. Satu kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Dalam lafazh "bismillahirrahmanirrahim" ada 19 kebaikan, lalu dilipatgandakan menjadi 190 kebaikan, lantas berapa yang akan anda dapatkan dengan pengulangan dan hapalan?! Tepat sekali, ini merupakan sebuah kesempatan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Dikatakan kepada orang yang menghapal al-Qur'an (ketika masuk surga), "Bacalah, naiklah dan tartilkanlah sebagimana engkau membaca dengan tartil di dunia, sungguh kedudukanmu di akhir ayat yang engkau baca". (HR. at-Tirmidzi)
Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar diberi kesempatan menghapal Kitab-Nya dan membacanya dengan cara yang diridhai-Nya.
Dzikir Keluar Rumah & Menuju Masjid

بِاسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

"Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakal pada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah". (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أََزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجَهَلَ عَلَيَّ

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan, berbuat kesalahan atau disalahi, tergelincir atau digelincirkan orang, menganiaya atau dianiaya dan berbuat bodoh atau dibodohi". (HR. Ahlus Sunan).

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُوْرًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَمِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَمِنْ خَلْفِي نُورًاوَاجْعَلْ لِي نُورًا

”Ya Allah, jadikanlah cahaya di hatiku, cahaya di pengelihatanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku dan cahaya di belakangku serta kuatkanlah cahaya untukku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dzikir ke Luar & Masuk Masjid

Ketika masuk berdo’a,

اَللَّهُمًّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

”Ya Allah, bukakanlah pintu rahmat-Mu untukku.” (HR. Muslim)

Ketika ke luar berdo’a,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu." (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Macam-macam cara mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala:

Dakwah kepada Allah subhanahu wata’ala,
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa mengajak pada suatu petunjuk, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)

Membaca al-Qur'an,
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur'an, sungguh al-Qur'an akan datang memberi syafaat bagi orang yang membacanya kelak di hari Kiamat." (HR. Muslim)

Shalat Sunnah Rawatib
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,"Tidak ada seorang muslim pun yang shalat sunnah dua belas raka'at setiap hari, kecuali Allah akan membangun untuknya rumah di surga." (HR. Muslim).
2 raka'at setelah Fajar (sebelum Subuh), 4 raka'at sebelum Zhuhur, 2 raka'at setelah Zhuhur, 2 raka'at setelah Maghrib dan 2 raka'at setelah Isya.
Do'a ketika Mengalami Kesusahan dan Kesedihan

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اْلعَظِيمُ اْلحَلِيمُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيمِ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ اْلأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيمِ

"Tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar), melainkan Allah, yang Mahaagung lagi Maha Penyantun. Tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar), melainkan Allah, Rabb pemilik 'Arsy yang agung. Tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Allah, Rabb langit dan Rabb bumi, serta Rabb pemilik 'Arsy yang mulia."
Kemudian mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Tidak ada tuhan (yang berhak diibadahi dengan benar), melainkan hanya Engkau semata. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (HR. at-Tirmidzi)

Lalu mengucapkan,

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

"Wahai Yang maha hidup dan Maha berdiri sendiri, dengan rahmatmu aku meminta pertolongan." (HR. At-Tirmidzi)
Diucapkan ketika tertimpa kesusahan dan kesulitan.

اَللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ, نَاصِيَتِي بِيَدِكَ, مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ, عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ, أََسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ, سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَاِبكَ, أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا ِمنْ خَلْقِكَ, أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِِ اْلغَيْبِ عِنْدَكَ, أَنْ تَجْعَلَ اْلقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي, وَنُورَ صَدْرِي, وَجَلاَءَ حُزْنِي, وَذَهَابَ هَمِّي.

"Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu (Adam), dan anak hamba perempuan-Mu (Hawa), ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepadamu dengan segala Nama yang men-jadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka aku mohon dengan itu agar Engkau jadi-kan al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku, dan pelipur kesedihanku, serta penghilang dari kesusahanku." (HR. Ahmad)
Dibaca ketika gelisah dan sedih
Ruqyah bagi Orang yang Mengeluh Sakit
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jika merasa sakit berdo'a untuk dirinya al-Mu'awwidzaat (surat al-Falaq dan surat an-Naas) lalu meniup.
Ditanyakan kepada az-Zuhri, "Bagaimana beliau meniup?" Ia menjawab, "Beliau meniup pada kedua tangannya dan mengusap kedua tangan itu pada wajah." (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, "Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan, bismillah tiga kali, lalu ucapkan tujuh kali",

أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَ أُحَاذِرُ

"Aku berlindung kepada Allah dan kepada kekuasaan-Nya dari apa yang aku rasakan dan kukhawatirkan." (HR. Muslim).
Ruqyah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,.
Anas ketika meruqyah Tsabit berkata, "Maukah engkau aku ruqyah dengan ruqyah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam?" Tsabit berkata, "Mau". Anas lalu berdo'a,

اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ اْلبَأْسَ اِشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

"Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah. Engkaulah Yang Maha menyembuhkan, tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan bekas sakit sedikit pun." (HR. al-Bukhari).


dari www.alsofwah.or.id

Demi waktu Dhuha

Allah bersumpah dengan berfirman, ''Demi waktu dhuha.'' Imam Arrazi menerangkan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha adalah waktu yang sangat penting. Di antara doa Rasulullah SAW: Allahumma baarik ummatii fii bukuurihaa. Artinya, ''Ya Allah berilah keberkahan kepada umatku di waktu pagi.''

Dari hadits riwayat Ibn Majah dan tirmidzi dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “ Barang siapa yang membiasakan diri melakukan shalat dhuha dua rekaat, maka diampunilah dosa-dosanya sekalipun dosa itu laksana buih diatas lautan “.

Abu Dzar al-Ghifari menyatakan , bahwa Rasulullah pernah berwasiat kepadanya , sehingga dia (Abu Dzar) berkata, “ Kekasihku Muhammad saw, telah berwasiat kepadaku tentang tiga hal, yang sejak itu aku tidak pernah meninggalkannya. Pertama, hendaklah mengerjakan shalat witir sebelum aku tidur, kedua, hendaknya aku tidak meninggalkan dua rekaat shalat sunnah dhuha, karena sesungguhnya shalat dhuha adalah shalatnya ’awwabin’ (shalatnya orang-orang yang bertaubat kepada Allah serta meninggalkan maksiat), ketiga, hendaklah aku berpuasa tiga hari tiap bulan (Hr. Tirmidzi dan Nasa’i dari Abi Hurairah).

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadis. Rasulullah SAW bersabda, ''Bagi tiap-tiap ruas anggota tubuh kalian hendaklah dikeluarkan sedekah baginya setiap pagi. Satu kali membaca tasbih (subhanallah) adalah sedekah, satu kali membaca tahmid (alhamdulillah) adalah sedekah, satu kali membaca takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh berbuat baik adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan, semua itu bisa diganti dengan dua rakaat shalat Dhuha.'' (HR Muslim).

Aisyah menceritakan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan shalat Dhuha empat rakaat. Dalam riwayat Ummu Hani', ''Kadang Rasulullah SAW melaksanakan shalat Dhuha sampai delapan rakaat.'' (HR Muslim). Imam Attirmidzi dan Imam Atthabrani meriwayatkan sebuah hadis yang menjelaskan bahwa bila seseorang melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu ia berdiam di tempat shalatnya sampai tiba waktu dhuha, kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha, ia akan mendapatkan pahala seperti naik haji dan umrah diterima. Para ulama hadis merekomendasikan hadis ini kedudukannya hasan.

Saudaraku, sungguh bahagia dan beruntung hamba beriman yang memulai waktunya dengan shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan dengan shalat Dhuha.

Bahkan Rasulullah pernah bersabda , yang artinya ,” Barang siapa mengerjakan shalat dhuha dua rekaat, maka Allah menghadiahkan kepadanya sebuah bangunan istana dari emas di surga “, (hr Ibn Majah dan tirmidzi dari Anas bin Malik).

Shalat tidak memberatkan manusia. Namun sebaliknya , shalat adalah sarana untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada-Nya agar mendapat pertolongan-Nya, perlindungan-Nya dan ridha-Nya

Shalat itu sendiri membawa barakah yang tak ternilai harganya. Salah satu rahasia yang seharusnya kita ketahui. Prof Dr Andry dari Paris, menyatakan bahwa tidak ada kesangsian sama sekali terhadap gerakan-gerakan shalat yang dilakukan setiap hari untuk dapat menurunkan penyakit kegemukan, reumatik, diabetes, batu empedu, sembelit dst. Gerakan-gerakan shalat itu sendiri juga menguatkan dan membesarkan urat-urat otot.

Prof Dr Kohrasch dan Prof Dr Leube, menyatakan bahwa gerakan-gerakan shalat secara Islam mengurangi dan meringankan penyakit jantung, seperti dari klep-klep bilik jantung, otot jantung, pembuluh-pembulu darah angina pectoris, penyumbatan pembuluh darah, bengkak pada kaki (oedema) karena sakit jantung, bronkitis, kegemukan , diabetes dst.

Masih ada sejuta lebih rahasia shalat yang belum kita ketahui.
Sungguh disayangkan bila kita , melewatkan kesempatan yang membahagiakan ini.
Yakinlah, Allah tentu akan mencatat sekaligus memberikan anugerah-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mendirikan shalat dhuha.

Dari hadits riwayat Tabrani dari Abi Ummah berkata bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya, “ Ketika matahari terbit dari tempatnya sebagaimana ketika shalat ashar dilakukan saat matahari tenggelam, kemudian ada seorang melakukan shalat sunnah dhuha dua rekaat dengan empat kali sujud, maka baginya tersedia pahala sama dengan pahala melakukan amal kebajikan seharian penuh, dan aku (Abi Ummah) menduga, bahwa Rasulullah saw, juga bersabda : ‘Apabila dia meninggal pada hari itu, maka berhak masuk surga’”. (Hr Thabrani dari Abi Ummah).

Sebagai seorang hamba, sudah seharusnya selalu berusaha dan berdoa agar Allah memberikan berkah-Nya sehingga kita bisa mendirikan shalat dhuha dengan istiqomah. Sungguh sayang, bila kita sampai melewatkan shalat ini.

Rasulullah bersabda , yang artinya ,” Didalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama adh-dhuha. Apabila hari kiamat tiba, ada seseorang yang menyeru,’Manakah orang-orang yang melanggengkan shalat dhuha ? Inilah pintu kalian. Masuklah kedalam surga dengan iringan rahmat Allah ! “, (Hr Thabrani dari Abi Hurairah).

Saudaraku, tidak ada yang lebih baik kecuali selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam apapaun urusannya. Yakinlah , Allah pasti memberikan petunjuk, kemudahan , perlindungan dan keberkahan atas setiap usaha yang kita jalankan.
Disamping riyadhah khusus yang diamalkan melalui zikir, puasa, i’tikaf, muhasabah, muqarabah, maka hendaknya kita juga meng-istiqomahkan shalat dhuha. Riyadhah artinya melatih jiwa untukmenerima kebenaran dan keikhlasan.

Tidak akan kita dapati seseorang yang meng-istiqomah-kan shalat dhuha kemudian dia mengalami kekurangan. Banyak kita dapati seorangyang fakir dan selalu merasa kekurangan ketika mereka bekerja namun tidak disertai rasa syukur kepada Allah.

Firman Allah, yang artinya ,” Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan , lalu Dia memberikan kecukupan “, (Qs. Ad-dhuha : 8).
Dengan melakukan shalat dhuha , kita akan medatangkan pikiran yang jernih, benar, memperoleh jalan yang lapang, juga mendatangkan rizki yang halal dan barakah.

Firman Allah, yang artinya ,” Dan, orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orangyang bertaqwa “ . (Az-Zumar : 33).

Riyadhah , disini mengandung dua pengertian .

• Pertama , melatihnya untuk menerima kebenaran, jika kebenaran itu disodorkan kepada nya. Apabila kebenaran ini ditawarkan kepadanya, maka dia langsung menerimanya.

• Kedua, menerima kebenaran dari orang yang menawarkan kepadanya.


Saudaraku, mendirikan shalat dhuha, termasuk dalam katagori orang yang mensyukuri nikmat Allah. dan bisa dijadikan salah satu sarana untuk mengokohkan hati agar tidak terjebak dalam emosi negatif. Sebagaimana penyakit yaitu tidak mennsyukuri nikmat Allah.

Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya ,” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohhon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran “, (Qs. Al- Baqarah : 186).

Saudaraku, semoga kita diberikan kemudahan untuk selalu istiqamah dan ikhlas menjalankan shalat dhuha.


Allahu a’lam

Senin, 23 Maret 2009

Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita
ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah.
Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa
itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak
sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang
tegar menghadapinya.

Al-Qur'an mengajarkan kita untuk berdo'a: "Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau
bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan
kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya..."(QS 2: 286)

Do'a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan
kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan
cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup
kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut,
rasa lapar, kurang harta dan lainnya.

Bukankah karena alasan takut lapar saudara kita bersedia mulai dari membunuh
hanya karena persoalan uang seratus rupiah sampai dengan berani memalsu
kuitansi atau menerima komisi tak sah jutaan rupiah. Bukankah karena rasa
takut akan kehilangan jabatan membuat sebagian saudara kita pergi ke "orang
pintar" agar bertahan pada posisinya atau supaya malah meningkat ke "kursi"
yg lebih empuk. Bukankah karena takut kehabisan harta kita jadi enggan
mengeluarkan zakat dan sadaqoh.

Al-Qur'an melukiskan secara luar biasa cobaan-cobaan tersebut. Allah
berfirman: "Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS 2: 155)

Amat menarik bahwa Allah menyebut orang sabarlah yang akan mendapat berita
gembira. Jadi bukan orang yang menang atau orang yang gagah....tapi orang
yang sabar! Biasanya kita akan cepat-cepat berdalih, "yah..sabar kan ada
batasnya..." Atau lidah kita berseru, "sabar sih sabar...saya sih kuat tidak
makan enak, tapi anak dan isteri saya?" Memang, manusia selalu dipenuhi
dengan pembenaran-pembenaran yang ia ciptakan sendiri.

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang dimaksud oleh Allah dengan orang sabar
pada ayat di atas: "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka
mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un". (Qs 2: 156)

Ternyata, begitu mudahnya Allah melukiskan orang sabar itu. Bukankah kita
sering mengucapkan kalimat "Inna lillahi...." Orang sabar-kah kita? Nanti
dulu! Andaikata kita mau merenung makna kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un maka kita akan tahu bahwa sulit sekali menjadi orang yang sabar.

Arti kalimat itu adalah : "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan
kepada-Nya-lah kami kembali." Kalimat ini ternyata bukan sekedar kalimat
biasa. Kalimat ini mengandung pesan dan kesadaran tauhid yang tinggi. Setiap
musibah, cobaan dan ujian itu tidaklah berarti apa-apa karena kita semua
adalah milik Allah; kita berasal dari-Nya, dan baik suka-maupun duka, diuji
atau tidak, kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ujian apapun itu datangnya
dari Allah, dan hasil ujian itu akan kembali kepada Allah. Inilah orang yang
sabar menurut Al-Qur'an!

Ikhlaskah kita bila mobil yang kita beli dengan susah payah hasil keringat
sendiri tiba-tiba hilang. Relakah kita bila proyek yang sudah didepan mata,
tiba-tiba tidak jadi diberikan kepada kita, dna diberikan kepada saingan
kita. Berubah menjadi dengki-kah kita bila melihat tetangga kita sudah
membeli teve baru, mobil baru atau malah pacar baru. Bisakah kita mengucap
pelan-pelan dengan penuh kesadaran, bahwa semuanya dari Allah dan akan
kembali kepada Allah. Kita ini tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi
tanah.... Bila kita mampu mengingat dan menghayati makna kalimat tersebut,
ditengah ujian dan cobaan yang menerpa kehidupan kita, maka Allah
menjanjikan dalam Al-Qur'an: "Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang
sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
mendapat petunjuk."

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berkata: "Siapa yang tak rela menerima
ketentuan-Ku, silahkan keluar dari bumi-Ku!"

Subhanallah..... "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un"

sumber: http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg00834.html

Minggu, 25 Januari 2009

FUNGSI DAN TUJUAN SHALAT SUNNAT ISTIKHARAH

“ APA FUNGSI DAN TUJUAN SHALAT SUNNAT ISTIKHARAH ? ”
Oleh : H. Sunaryo A.Y.

Shalat Istikharah adalah Shalat Sunnat dua rakaat untuk memohon petunjuk kepada Allah, dalam hal menentukan pilihan dari dua perkara yang belum diketahui baik dan buruknya. Dalam sebuah Hadist dikatakan, Jabir bin Abdullah ra berkata : “ Rosulullah SAW mengajarkan kepada kami beristikharah pada segala macam urusan kami, seperti beliau mengajarkan kepada kami surat Al-Qur’an.”
Dan didalam Hadist yang lain Rosulullah SAW bersabda : “ Apabila seseorang diantara kamu berkeinginan melakukan sesuatu, hendaklah ia ruku’ dengan dua ruku’ (shalat dua rakaat) yang selain fardhu. Sesudah Shalat, kemudian membaca do’a ini. “ (kedua Hadist tersebut diatas terdapat dan dikutip dari buku Rahasia Shalat Sunnat oleh : Abdul Manan bin H. Muhammad Sobari, halaman 58 – 59)
Ket : Yang dimaksud dalam Hadist ini dengan Ruku’ dengan dua Ruku’ ialah Shalat Istikharah dua raka’at. Dan do’a sesudah Shalat Sunnat Istikharah akan disampaikan kemudian dalam artikel ini.
Kata Istikharah dalam bahasa Arab berarti minta dipilihkan. Seorang teman meminta tolong kepada temannya untuk memilihkan mana buku bacaan yang terbaik dari buku bacaan yang ada. Ini dinamakan perbuatan Istikharah. Seseorang mau melakukan Istikharah biasanya apabila ia merasa ragu untuk memilih, sehingga meminta bantuan orang lain atau temannya. Demikian juga halnya dalam beragama. Apabila manusia tidak dapat memecahkan masalah yang dihadapkan dengan akal dan fikiran maka ia mengadukan masalah tersebut kepada Allah SWT agar Allah dapat membantu memilihkan keputusan mana yang harus diambil. Cara meminta pilihan kepada Allah itu dapat dilakukan bermacam-macam, antara lain dengan berdo’a agar Allah memberi hidayah, atau melakukan Shalat dua raka’at. Shalat dua raka’at inilah yang disebut dengan Shalat Istikharah.
Oleh karena itu, pengertian Shalat Istikharah adalah Shalat dua raka’at yang dimaksudkan memohon kepada Allah untuk membantu memecahkan (memilihkan) suatu hal yang belum dapat diselesaikan sekarang. Sementara manusia sebagai mahluk berfikir diberi akal dan hati nurani sebagai alat pertimbangan dalam kehidupan. Tetapi apabila ada sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal dan fikiran manusia, maka disaat itulah diperlukan keimanan. Problema anak manusia semenjak dia dilahirkan ke dunia ini adalah sangat kompleks dan kadangkala memang silih berganti. Sepanjang masalah tersebut masih dapat diselesaikan oleh akal, maka manusia dapat hidup dengan tenang. Tetapi, toh tidak setiap persoalan (masalah) itu dapat diselesaikan oleh akal, karena akal manusia itu sendiri mempunyai keterbatasan. Kalau sudah begini, manakala akal sudah menyerah dan sudah tidak dapat dipergunakan untuk berfikir lagi, sudahlah pasti anak manusia yang masih mengganjal masalah (problema) itu tidak akan dapat hidup dengan tenang.

Kalau sudah demikian, kepada Allah SWT jua kita (manusia ) mengadu, meninta dan memohon. Karena memang Dia tempat manusia meminta. Karena hanya Dia (yaitu Allah SWT ) saja yang kita (manusia) sembah dan hanya kepada Dia kita (manusia) memohon pertolongan. Disinilah keagungan ajaran Islam itu tampak, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya agar melakukan Shalat Istikharah ( Shalat minta dipilihkan). Anjuran Nabi SAW ini berkaitan dengan fitrah manusia yang mempunyai hati Nurani sebagai tempat bersemayamnya kemauan dan ketaqwaan. Fungsi dan tujuan Shalat Istikharah terlihat yaitu pada ketika manusia sedang nyenyak tidur dan dunia hening tanpa ada suara yang hiruk pikuk, pada saat itu seorang hamba Allah ruku’ dua rakaat memanjatkan doa dan mengadukan nasibnya kepada Yang Maha Kuasa. Hati yang teguh disertai keyakinan yang kuat akan kebenaran agama Islam, niscaya semua kesulitan akan terpecahkan secara baik karena Shalat Sunnat Istikharah memberikan arah dan ketentraman kepada jiwa yang sedang kalut. Allah SWT akan memberikan petunjuk atas apa yang umat manusia resahkan melalui Rahmat dan Syafaat-Nya kepada hati sanubari manusia. Hati sanubari inilah kemudian yang menggerakkan raga manusia untuk memilih salah satu yang ditunjuk Allah. Namun sekiranya setelah selesai Shalat Sunnat Istikharah dan persoalan tidak juga kunjung terpecahkan. Ingat, jangan salahkan Allah, mungkin kita belum memenuhi syarat dan kriteria agar suatu doa diakbulkan. Mungkin juga hanya masalah waktu, sebaiknya kita ulangi dua sampai tiga kali Shalat Sunnat Istikharah kita. Sehingga Allah memberikan petunjuk-Nya (ilham) kepada diri kita. Sebab ada hal yang tidak dapat diperkirakan oleh akal manusia, yakni gerak Allah membantu hamba-Nya. Begitu juga, manusia kadang-kadang tidak sadar, bahwa ia justru sedang menikmati suatu karunia Illahi.

• Cara melakukan Shalat Sunnat Istikharah :
1. Niat :
2. Bacaan Surat setelah Al-Fatihah :
Rakaat Pertama, Surat Al-Kafirun
Rakaat kedua, Surat Al-Ikhlas
3. Selesai Shalat, mambaca doa. ( keterangan tersebut ini )

Pada waktu berdoa itulah disampaikan apa yang diinginkan dan inti dari Istikharah pada waktu tersebut. Ada Hadist Rosulullah SAW setentang doa Istikharah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari sebagai berikut :

“Ya Allah, Tuhanku, sesungguhnya aku mohon petunjuk kepada-Mu tentang mana yang baik buatku menurut ilmu-Mu. dan aku mohon diberi kekuatan dengan kekuatan-Mu dan dengan keagungan-Mu yang besar. Karena sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Kuasa, aku tidak berkuasa. Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan aku tidak mengetahui serta Engkaulah Yang Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa perkara ini baik bagiku dan agamaku dan dalam kehidupanku dan pada akibat tindakanku, maka tetapkanlah untukku kemudian berkahilah aku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa pekerjaan ini buruk bagiku dalam agamaku dan kehidupanku dan akibat tindakanku, maka palingkanlah yang jahat itu dari aku dan palingkanlah aku darinya. Dan tentukanlah bagiku kebajikan sekiranya ada. Kemudian ridhoilah aku dalam kebajikan itu. “ ( HR Bukhari )
*********
( Bahan-bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku Rahasia Shalat Sunnat oleh : Abdul Manan bin H. Muhammad Sobari dan dari buku PENDIDIKAN AGAMA ISLAM untuk siswa SMTA kelas III. Sesuai kurikulum 1975 yang disempurnakan (1984). Disusun oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum Negeri. SIPP : Surat Keputusan Direktur Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. No : 50/E/87 tanggal 25 Juli 1987. )

Hukum Pacaran Dalam Islam

Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita dibagi menjadi dua, yaitu hubungan mahram dan hubungan nonmahram. Hubungan mahram adalah seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa 23, yaitu mahram seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung ataupun sebapak), bibi (dari bapak ataupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak perempuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk di dalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Maka, yang tidak termasuk mahram adalah sepupu, istri paman, dan semua wanita yang tidak disebutkan dalam ayat di atas.

Uturan untuk mahram sudah jelas, yaitu seorang laki-laki boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengan mahramnya, semisal bapak dengan putrinya, kakak laki-laki dengan adiknya yang perempuan, dan seterusnya. Demikian pula, dibolehkan bagi mahramnya untuk tidak berhijab di mana seorang laki-laki boleh melihat langsung perempuan yang terhitung mahramnya tanpa hijab ataupun tanpa jilbab (tetapi bukan auratnya), semisal bapak melihat rambut putrinya, atau seorang kakak laki-laki melihat wajah adiknya yang perempuan. Aturan yang lain yaitu perempuan boleh berpergian jauh/safar lebih dari tiga hari jika ditemani oleh laki-laki yang terhitung mahramnya, misalnya kakak laki-laki mengantar adiknya yang perempuan tour keliling dunia. Aturan yang lain bahwa seorang laki-laki boleh menjadi wali bagi perempuan yang terhitung mahramnya, semisal seorang laki-laki yang menjadi wali bagi bibinya dalam pernikahan.

Hubungan yang kedua adalah hubungan nonmahram, yaitu larangan berkhalwat (berdua-duaan), larangan melihat langsung, dan kewajiban berhijab di samping berjilbab, tidak bisa berpergian lebih dari tiga hari dan tidak bisa menjadi walinya. Ada pula aturan yang lain, yaitu jika ingin berbicara dengan nonmahram, maka seorang perempuan harus didampingi oleh mahram aslinya. Misalnya, seorang siswi SMU yang ingin berbicara dengan temannya yang laki-laki harus ditemani oleh bapaknya atau kakaknya. Dengan demikian, hubungan nonmahram yang melanggar aturan di atas adalah haram dalam Islam. Perhatikan dan renungkanlah uraian berikut ini.

Firman Allah SWT yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32).

“Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: ‘Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….’ Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ‘Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya …’.”
(An-Nur: 30–31).

Menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak dilepas begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan dapat dikatakan terpelihara apabila secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya.

Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi, ‘Palingkanlah pandanganmu itu!” (HR Muslim, Abu Daud, Ahmad, dan Tirmizi).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

Rasulullah saw. berpesan kepada Ali r.a. yang artinya, “Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya! Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Al-Hakim meriwayatkan, “Hati-hatilah kamu dari bicara-bicara dengan wanita, sebab tiada seorang laki-laki yang sendirian dengan wanita yang tidak ada mahramnya melainkan ingin berzina padanya.”

Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya dan lebih jauh terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan.

Ath-Thabarani dan Al-Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah berfirman yang artinya, ‘Penglihatan (melihat wanita) itu sebagai panah iblis yang sangat beracun, maka siapa mengelakkan (meninggalkannya) karena takut pada-Ku, maka Aku menggantikannya dengan iman yang dapat dirasakan manisnya dalam hatinya.”

Ath-Thabarani meriwayatkan, Nabi saw. bersabda yang artinya, “Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan, seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya.”

Di dalam kitab Dzamm ul Hawa, Ibnul Jauzi menyebutkan dari Abu al-Hasan al-Wa’ifdz bahwa dia berkata, “Ketika Abu Nashr Habib al-Najjar al-Wa’idz wafat di kota Basrah, dia dimimpikan berwajah bundar seperti bulan di malam purnama. Akan tetapi, ada satu noktah hitam yang ada wajahnya. Maka orang yang melihat noda hitam itu pun bertanya kepadanya, ‘Wahai Habib, mengapa aku melihat ada noktah hitam berada di wajah Anda?’ Dia menjawab, ‘Pernah pada suatu ketika aku melewati kabilah Bani Abbas. Di sana aku melihat seorang anak amrad dan aku memperhatikannya. Ketika aku telah menghadap Tuhanku, Dia berfirman, ‘Wahai Habib?’ Aku menjawab, ‘Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah.’ Allah berfirman, ‘Lewatlah Kamu di atas neraka.’ Maka, aku melewatinya dan aku ditiup sekali sehingga aku berkata, ‘Aduh (karena sakitnya).’ Maka. Dia memanggilku, ‘Satu kali tiupan adalah untuk sekali pandangan. Seandainya kamu berkali-kali memandang, pasti Aku akan menambah tiupan (api neraka).”

Hal tersebut sebagai gambaran bahwa hanya melihat amrad (anak muda belia yang kelihatan tampan) saja akan mengalami kesulitan yang sangat dalam di akhirat kelak.

“Semalam aku melihat dua orang yang datang kepadaku. Lantas mereka berdua mengajakku keluar. Maka, aku berangkat bersama keduanya. Kemudian keduanya membawaku melihat lubang (dapur) yang sempit atapnya dan luas bagian bawahnya, menyala api, dan bila meluap apinya naik orang-orang yang di dalamnya sehingga hampir keluar. Jika api itu padam, mereka kembali ke dasar. Lantas aku berkata, ‘Apa ini?’ Kedua orang itu berkata, ‘Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan zina.” (Isi hadis tersebut kami ringkas redaksinya. Hadis di ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Di dalam kitab Dzamm ul-Hawa, Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Abu Hurairah r.a. dan Ibn Abbas r.a., keduanya berkata, Rasulullah saw. Berkhotbah, “Barang siapa yang memiliki kesempatan untuk menggauli seorang wanita atau budak wanita lantas dia melakukannya, maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan akan memasukkan dia ke dalam neraka. Barang siapa yang memandang seorang wanita (yang tidak halal) baginya, maka Allah akan memenuhi kedua matanya dengan api dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam neraka. Barang siapa yang berjabat tangan dengan seorang wanita (yang) haram (baginya) maka di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan dibelenggu tangannya di atas leher, kemudian diperintahkan untuk masuk ke dalam neraka. Dan, barang siapa yang bersenda gurau dengan seorang wanita, maka dia akan ditahan selama seribu tahun untuk setiap kata yang diucapkan di dunia. Sedangkan setiap wanita yang menuruti (kemauan) lelaki (yang) haram (untuknya), sehingga lelaki itu terus membarengi dirinya, mencium, bergaul, menggoda, dan bersetubuh dengannya, maka wanitu itu juga mendapatkan dosa seperti yang diterima oleh lelaki tersebut.”

‘Atha’ al-Khurasaniy berkata, “Sesungguhnya neraka Jahanam memiliki tujuh buah pintu. Yang paling menakutkan, paling panas, dan paling bisuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang melakukan perbuatan tersebut setelah mengetahui hukumnya.”

Dari Ghazwan ibn Jarir, dari ayahnya bahwa mereka berbicara kepada Ali ibn Abi Thalib mengenai beberapa perbuatan keji. Lantas Ali r.a. berkata kepada mereka, “Apakah kalian tahu perbuatan zina yang paling keji di sisi Allah Jalla Sya’nuhu?” Mereka berkata, “Wahai Amir al-Mukminin, semua bentuk zina adalah perbuatan keji di sisi Allah.” Ali r.a. berkata, “Akan tetapi, aku akan memberitahukan kepada kalian sebuah bentuk perbuatan zina yang paling keji di sisi Allah Tabaaraka wa Taala, yaitu seorang hamba berzina dengan istri tetangganya yang muslim. Dengan demikian, dia telah menjadi pezina dan merusak istri seorang lelaki muslim.” Kemudian, Ali r.a. berkata lagi, “Sesungguhnya akan dikirim kepada manusia sebuah aroma bisuk pada hari kiamat, sehingga semua orang yang baik maupun orang yang buruk merasa tersiksa dengan bau tersebut. Bahkan, aroma itu melekat di setiap manusia, sehingga ada seseorang yang menyeru untuk memperdengarkan suaranya kepada semua manusia, “Apakah kalian tahu, bau apakah yang telah menyiksa penciuman kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak mengetahuinya. Hanya saja yang paling mengherankan, bau tersebut sampai kepada masing-masing orang dari kita.” Lantas suara itu kembali terdengar, “Sesungguhnya itu adalah aroma alat kelamin para pezina yang menghadap Allah dengan membawa dosa zina dan belum sempat bertobat dari dosa tersebut.”

Bukankah banyak kejadian orang-orang yang berpacaran dan bercinta-cinta dengan orang yang telah berkeluarga? Jadi, pacaran tidak hanya mereka yang masih bujangan dan gadis, tetapi dari uisa akil balig hingga kakek nenek bisa berbuat seperti yang diancam oleh hukuman Allah tersebut di atas. Hanya saja, yang umum kelihatan melakukan pacaran adalah para remaja.

Namun, bukan berarti tidak ada solusi dalam Islam untuk berhubungan dengan nonmahram. Dalam Islam hubungan nonmahram ini diakomodasi dalam lembaga perkawinan melalui sistem khitbah/lamaran dan pernikahan.

“Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami).

Selain dua hal tersebut di atas, baik itu dinamakan hubungan teman, pergaulan laki perempuan tanpa perasaan, ataupun hubungan profesional, ataupun pacaran, ataupun pergaulan guru dan murid, bahkan pergaulan antar-tetangga yang melanggar aturan di atas adalah haram, meskipun Islam tidak mengingkari adanya rasa suka atau bahkan cinta. Anda bahkan diperbolehkan suka kepada laki-laki yang bukan mahram, tetapi Anda diharamkan mengadakan hubungan terbuka dengan nonmahram tanpa mematuhi aturan di atas. Maka, hubungan atau jenis pergaulan yang Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda adalah haram. Kalau masih ingin juga, Anda harus ditemani kakak laki-laki ataupun mahram laki-laki Anda dan Anda harus berhijab dan berjilbab agar memenuhi aturan yang telah ditetapkan Islam.

Hidup di dunia yang singkat ini kita siapkan untuk memperoleh kemenangan di hari akhirat kelak. Oleh karena itu, marilah kita mulai hidup ini dengan bersungguh-sungguh dan jangan bermain-main. Kita berusaha dan berdoa mengharap pertolongan Allah agar diberi kekuatan untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Semoga Allah menolong kita, amin.

Adapun pertanyaan berikutnya kami jawab bahwa cara mengetahui sifat calon pasangan adalah bisa tanya secara langsung dengan memakai pendamping (penengah) yang mahram. Atau, bisa melalui perantara, baik itu dari keluarga atau saudara kita sendiri ataupun dari orang lain yang dapat dipercaya. Hal ini berlaku bagi kedua belah pihak. Kemudian, bagi seorang laki-laki yang menyukai wanita yang hendak dinikahinya, sebelum dilangsungkan pernikahan, maka baginya diizinkan untuk melihat calon pasangannya untuk memantapkan hatinya dan agar tidak kecewa di kemudian hari.

“Apabila seseorang hendak meminang seorang wanita kemudian ia dapat melihat sebagian yang dikiranya dapat menarik untuk menikahinya, maka kerjakanlah.” (HR Abu Daud).

Hal-hal yang mungkin dapat dilakukan sebagai persiapan seorang muslim apabila hendak melangsungkan pernikahan.
1. Memilih calon pasangan yang tepat.
2. Diproses melalui musyawarah dengan orang tua.
3. Melakukan salat istikharah.
4. Mempersiapkan nafkah lahir dan batin.
5. Mempelajari petunjuk agama tentang pernikahan.
6. Membaca sirah nabawiyah, khususnya yang menyangkut rumah tangga Rasulullah saw.
7. Menyelesaikan persyaratan administratif sesui dengan peraturan daerah tempat tinggal.
8. Melakukan khitbah/pinangan.
9. Memperbanyak taqarrub kepada Allah supaya memperoleh kelancaran.
10. Mempersiapkan walimah.

Sabtu, 03 Januari 2009

Cinta

Cinta sering diucapkan dengan kata-kata

Cinta sering dilakukan tanpa perbuatan

Cinta sering disebut tapi tidak dikenal

Cinta tidak mengenal cemburu

Cinta tidak mengenal pamrih

Cinta hanya memberi , memberi dan memberi

Cinta tidak dicari tapi mencari

Cinta tidak mengenal marah , sedih , benci , kecewa

Cinta itu bukan nafsu berahi tapi nafsu yang diberkahi

BISAKAH KITA MENCINTAI SEPERTI ALLAH MENCINTAI


Kang Dicky

Benarkah..?

Cinta adalah perasaan ingin disenangkan pasangan

Pasangan adalah milik pribadi yang harus menyenangkan

Pasangan tidak menyenangkan harus dimusuhi dan dicemburui

Itukah cinta ataukah ego yang terbungkus rapi…?

Egois adalah kalimat untuk orang lain , bukan untuk diri sendiri

Ketika orang lain memaksakan kehendak pada kita

Yang mengalahkan ego kita karena kalah daya dan kalah kuasa

Kita terlalu indah untuk disalahkan

Orang lainlah yang harus selalu salah dan egois

Tidak egoiskah itu…? Atau ego yang terbungkus kelemahan…?

Kelemahan adalah pilihan untuk selalu kalah

Ketika kalah , kita akan membuat alasan

Alasan dibuat untuk menutupi kesalahan

Ketika semua alasan tidak bisa diterima

Kesalahan akan kita buat indah dengan mengatakan : manusiawi

Manusiawi-kah manusia…? Mengapa saling berbeda…?

Manusiawi adalah kata yang diucapkan ketika melakukan kesalahan

Karena kesalahan kita harus terlihat wajar

Tidak diucapkan ketika melakukan hal dianggap benar

Karena benar yang dilakukan adalah kehebatan diri

Terlepas dari manusia yang lain dirinya lah yang hebat

Ketika kehebatannya tidak diakui orang lain terjadilah kekecewaan

Manusiawikah kalau kita selalu haus pujian…?

Kecewakah ketika orang tidak memuji kita…?

Kecewa muncul ketika keinginan dan kepentingan terhalangi

Kecewa muncul ketika gagal memaksakan apa yang kita mau

Bisakah untuk menutupi kekecewaan kita gunakan kata tawakal..?

Atau kita dengan memaksakan diri berusaha pasrah..?

Kekecewaan berkepanjangan akan menimbulkan perasaan marah

Marah muncul ketika kita merasa dirugikan

Marah tertuju pada siapapun atau apapun

Marah menimbulkan perlawanan

Perlawanan marah yang kalah akan menimbulkan ketidakberdayaan

Ketidakberdayaan menimbulkan kesedihan

Manusiawikah kita…?

Ketika Allah SWT berfirman orang beriman jangan bersedih hati

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu

Kita membangkang dengan selalu menikmati marah dan sedih…

Lebih tahukah manusia daripada Allah SWT mengetahui

Manusiawikah kita…? Atau kita merasa tuhan untuk diri sendiri…?

Kesedihan perlu teman dengan alasan curhat…

Kemarahan perlu teman dengan alasan curhat…

Kebencian perlu teman dengan alasan curhat…

Curhat adalah sarana untuk berbagi kebencian , kesedihan , kemarahan

Agar teman membenci orang yang sama dengan orang yang kita benci

Agar teman marah pada orang yang sama dengan orang yang kita marahi

Agar terlihat indah curhat diberi nama lain yaitu ventilasi

Lalu apa bedanya sifat kita dengan sifat iblis

Karena di kutuk ingin mengajak teman agar sama-sama di kutuk

Benarkah kita khalifah di muka bumi…?

Khalifah yang mampu memimpin diri sendiri dan alam…?

Khalifah yang memiliki kesadaran manusiawi-Nya…?

Manusia yang hidup berdasarkan kacamata Sang Maha Mengetahui…?

Benarkah…?

Benarkah…?

Benarkah…?

Kang Dicky